Minggu, 15 Oktober 2017

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan ke-3

METODE DAN OBJEK FILSAFAT ILMU

Perkuliahan pada pertemuan ketiga ini masih sama seperti perkuliahan pertemuan kedua, yaitu di gedung pascasarjana baru lantai 1. Pada pertemuan ketiga ini juga dilaksanakan tes jawab singkat yang ke-2 yang berkaitan dengan objek dan metode filsafat. Pada tes awab singkat pertemuan ke tiga ini ada 25 soal, jika pada tes pertama di pertemuan ke dua saya masih mendapat nilai nol, di tes kedua ini saya berhasil menjawab satu soal dengan benar. Saya memahami mungkin inilah yang dinamakan menaikkan dimensi diri. Pada awalnya nilainya nol, kemudian naik atau yang awalnya belum paham menjadi paham. Sedangkan kebalikannya adalah reduksi, awalnya tinggi menjadi rendah.
Dengan hasil tes kedua ini ada rasa bersyukur, setidaknya ada sesuatu hal yang dapat saya pahami dari perkuliahan filsafat ilmu ini, namun hal ini juga menyadarkan saya bahwa masih diperlukan usaha dan keihklasan hati serta pikiran yang sangat besar untuk dapat memahami semua pemikiran-pemikiran yang Bapak Prof.Dr. Marsigit M.A. tuangkan dalam bentuk tulisan-tulisan. Karena sebenar-benar berfilsafat adalah yang mampu menjelaskan apa yang kita pikirkan, ciri-ciri orang yang paham dan berilmu adalah orang yang mampu menjawab. Mampu menjawab berarti memahami.
Orang yang mampu berfilsafat adalah orang yang mampu menjelaskan hal yang mudah menjadi lebih mudah dan hal yang sulit menjadi lebih mudah juga. Karena sesungguhnya objek filsafat ada dua, yang ada dan yang mungkin ada. Ketika kita mampu menjelaskan apa yang kita pikirkan dengan mudah dan jelas maka sesungguhnya hal tersebut adalah filsafat. Menjelaskan pikiran bukan berarti memaksakan apa yang kita pikirkan untuk diikuti oleh orang lain hal yang seperti itu dinamakan determinism.
Pada pertemuan ini dijelaskan hubungan filsafat dengan matematika. Matematika memiliki perbedaan pada pengaplikasiannya, matematika untuk orang dewasa dan matematika untuk anak. Matematika untuk orang dewasa bersifat absolutisme atau mutlak sedangkan matematika untuk anak bersifat realisme atau nyata. Dalam pembelajaran matematika kepada anak hendaknya disesuaikan dengan kondisi anak, yaitu matematika yang realis. Pembelajaran pada anak-anak hendaknya berupa suatu kegiatan, karena bagi anak belajar adalah beraktifitas.
Bapak Prof. Dr.Marsigit M.A. juga menjelaskan mengenai metafisik. Metafisik berarti disebalik penampakan, apa yang tidak terlihat oleh mata kita adalah metafisik. Apa yang kita lihat adalah apa yang kita pikirkan. Dalam filsafat kita tidak diperbolehkan hanya memandang apa yang kita lihat saja tetapi juga apa yang ada disebaliknya. Jika dalam berfilsafat hanya mengandalkan dari apa yang kita lihat saja maka akan menjadi determinism. Karena ciri berpikir filsafat itu antara lain: (1) Radikal artinya berpikir sampai ke akarnya; (2) Universal artinya umum, menyangkut semua hal; (3) Komperhensif artinya menyeluruh; (4) Bebas artinya sampai batas yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya; dan (5) bertanggung jawab. Untuk dapat memiliki ciri-ciri orang yang sudah berpikir filsafat adalah dengan membaca. Membaca tulisan tentang pikiran para filsuf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar