METODE DAN
OBJEK FILSAFAT ILMU
Perkuliahan pada pertemuan ketiga ini masih sama seperti perkuliahan pertemuan
kedua, yaitu di gedung pascasarjana baru lantai 1. Pada pertemuan ketiga ini
juga dilaksanakan tes jawab singkat yang ke-2 yang berkaitan dengan objek dan
metode filsafat. Pada tes awab singkat pertemuan ke tiga ini ada 25 soal, jika
pada tes pertama di pertemuan ke dua saya masih mendapat nilai nol, di tes
kedua ini saya berhasil menjawab satu soal dengan benar. Saya memahami mungkin
inilah yang dinamakan menaikkan dimensi diri. Pada awalnya nilainya nol,
kemudian naik atau yang awalnya belum paham menjadi paham. Sedangkan kebalikannya
adalah reduksi, awalnya tinggi menjadi rendah.
Dengan hasil tes kedua ini ada rasa bersyukur, setidaknya ada sesuatu hal
yang dapat saya pahami dari perkuliahan filsafat ilmu ini, namun hal ini juga menyadarkan saya bahwa masih diperlukan usaha dan
keihklasan hati serta pikiran yang sangat besar untuk dapat memahami semua pemikiran-pemikiran
yang Bapak Prof.Dr. Marsigit M.A. tuangkan dalam bentuk tulisan-tulisan. Karena
sebenar-benar berfilsafat adalah yang mampu menjelaskan apa yang kita pikirkan,
ciri-ciri orang yang paham dan berilmu adalah orang yang mampu menjawab. Mampu menjawab
berarti memahami.
Orang yang mampu berfilsafat adalah orang yang mampu
menjelaskan hal yang mudah menjadi lebih mudah dan hal yang sulit menjadi lebih
mudah juga. Karena sesungguhnya objek filsafat ada dua, yang ada dan yang
mungkin ada. Ketika kita mampu menjelaskan apa yang kita pikirkan dengan mudah
dan jelas maka sesungguhnya hal tersebut adalah filsafat. Menjelaskan pikiran
bukan berarti memaksakan apa yang kita pikirkan untuk diikuti oleh orang lain
hal yang seperti itu dinamakan determinism.
Pada pertemuan ini dijelaskan hubungan
filsafat dengan matematika. Matematika memiliki perbedaan pada
pengaplikasiannya, matematika untuk orang dewasa dan matematika untuk anak.
Matematika untuk orang dewasa bersifat absolutisme atau mutlak sedangkan
matematika untuk anak bersifat realisme atau nyata. Dalam pembelajaran
matematika kepada anak hendaknya disesuaikan dengan kondisi anak, yaitu
matematika yang realis. Pembelajaran pada anak-anak hendaknya berupa suatu kegiatan,
karena bagi anak belajar adalah beraktifitas.
Bapak Prof. Dr.Marsigit M.A. juga menjelaskan
mengenai metafisik. Metafisik berarti disebalik penampakan, apa yang tidak
terlihat oleh mata kita adalah metafisik. Apa yang kita lihat adalah apa yang
kita pikirkan. Dalam filsafat kita tidak diperbolehkan hanya memandang apa yang
kita lihat saja tetapi juga apa yang ada disebaliknya. Jika dalam berfilsafat
hanya mengandalkan dari apa yang kita lihat saja maka akan menjadi determinism.
Karena ciri berpikir filsafat itu antara lain: (1) Radikal artinya berpikir
sampai ke akarnya; (2) Universal artinya umum, menyangkut semua hal; (3)
Komperhensif artinya menyeluruh; (4) Bebas artinya sampai batas yang
seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya; dan (5) bertanggung jawab. Untuk dapat
memiliki ciri-ciri orang yang sudah berpikir filsafat adalah dengan membaca. Membaca
tulisan tentang pikiran para filsuf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar