Sabtu, 14 Oktober 2017

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan ke-2

PLACEMENT TEST
Perkuliahan pertemuan kedua ini dilaksanakan pada 26 September 2017 pukul 15.30-17.10 di gedung pascasarjana baru lantai 1. Pertemuan kedua ini baru dapat dilaksanakan pada minggu keempat dikarenakan bapak Prof. Dr. Marsigit M.A. berhalangan hadir sehingga dengan terpaksa perkuliahan harus ditunda selama dua minggu. Pada pertemuan kali ini dilaksanakan tes penempatan atau tes 1.
Soal tes yang diberikan bukan seperti soal-soal tes yang biasa diberikan. Soal tes yang diberikan tentang bagaimana memahami diri yang berkaitan dengan filsafat. Pada tes kali ini terdapat 25 soal tes. Dari ke-25 soal yang diberikan tidak ada satupun soal yang dapat saya jawab, akhirnya pada placement test ini saya dapat nilai nol. Inilah yang disebut dengan nolisasi filsafat. Dengan mendapat nol ini menyadarkan bahwa sebenar-benarnya diri kita adalah tidak mengetahui apapun. Namun dengan itu kita dituntut harus belajar, karena belajar harus dimulai dari bawah, harus menganggap bahwa kita tidak tahu apa-apa. Ketika belajar dilakukan dari atas maka kita akan sulit mendapatkan ilmu lagi.
Meskipun pertanyaan-pertanyaan dalam soal placement test ini berkaitan dengan  diri sendiri, namun jawaban-jawabannya sangat sesuai dengan filsafat. Jawaban-jawaban placement test ini berkaitan dengan pilar filsafat. Filsafat memiliki tiga pilar yaitu hakekat, metode, dan manfaat (ontologi, epistemologi, dan aksiologi). Pada pertanyaan pertama adalah “siapa anda?” jawabannya adalah “hakekat”. Jadi “anda” adalah “aku” dan “aku” adalah “duniaku”. Hakekat adalah patokan, penentu, dan penunjuk arah dalam duniaku. Sehingga hakekat filsafat ilmu adalah patokan, penentu, dan penunjuk arah dalam dunia filsafat ilmu, filsafat menentukan kemana arar ilmu akan diantarkan dan dikembangkan. Pertanyaan “siapa anda” juga dapat dijawab “potensi”. Setiap manusia memiliki potensinya masing-masing, potensi menjadi baik atau buruk. Potensi ada dua macam yaitu potensi takdir dan potensi ikhtiar. Potensi ikhtiar adalah potensi untuk berubah. Setiap langkah hidup adalah pilihan.
Pilihan merupakan metode untuk berubah atau menggapai potensi ikhtiar. Memilih menjadi baik atau buruk, memilih A atau B, memilih belajar atau memilih terjebak dalam mitos. Manfaat dari pemilihan ini adalah untuk menaikkan dimensi. Dewa adalah orang-orang yang dimensinya diatas kita, sehingga kita adalah dewa untuk diri kita yang lalu, karena dimensi setiap orang selalu meningkat setiap waktu. Semakin banyak yang kita ketahui maka semakin tinggi dimensi kita. Namun tujuan hidup bukanlah untuk menaikkan dimensi, sebenar-benar dan setinggi-tingginya tujuan hidup manusia adalah menjadi saksi.
Objek filsafat ada dua yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada adalah yang dapat dilihat, disentuh, didengar, dan dirasakan. Yang mungkin ada adalah yang ada dipikiranmu. Sebenar-benarnya belajar adalah berubah, berubah dari mengada menjadi pengada. Sebenar-benar belajar adalah sedang mengada, merubah yang mungkin ada menjadi ada, sehingga dapat menaikkan dimensi diri. Ketika kita tidak tahu maka hal yang tidak kita ketahui tersebut adalah hal yang mungkin ada, namun ketika kita dapat menyebutkan satu saja sifat dari hal yang mungkin ada tersebut, maka hal yang mungkin ada tersebut sudah berubah menjadi hal yang ada, dan dimensi diri kita sudah berubah dan naik satu tingkat dari sebelumnya. Sebenar-benarnya belajar adalah merubah, dan sebenar-benar pebelajar adalah berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar