PLACEMENT TEST
Perkuliahan
pertemuan kedua ini dilaksanakan pada 26 September 2017 pukul 15.30-17.10 di gedung
pascasarjana baru lantai 1. Pertemuan kedua ini baru dapat dilaksanakan pada
minggu keempat dikarenakan bapak Prof. Dr. Marsigit M.A. berhalangan hadir
sehingga dengan terpaksa perkuliahan harus ditunda selama dua minggu. Pada pertemuan
kali ini dilaksanakan tes penempatan atau tes 1.
Soal
tes yang diberikan bukan seperti soal-soal tes yang biasa diberikan. Soal tes
yang diberikan tentang bagaimana memahami diri yang berkaitan dengan filsafat. Pada
tes kali ini terdapat 25 soal tes. Dari ke-25 soal yang diberikan tidak ada
satupun soal yang dapat saya jawab, akhirnya pada placement test ini saya dapat nilai nol. Inilah yang disebut dengan
nolisasi filsafat. Dengan mendapat nol ini menyadarkan bahwa sebenar-benarnya
diri kita adalah tidak mengetahui apapun. Namun dengan itu kita dituntut harus
belajar, karena belajar harus dimulai dari bawah, harus menganggap bahwa kita
tidak tahu apa-apa. Ketika belajar dilakukan dari atas maka kita akan sulit
mendapatkan ilmu lagi.
Meskipun
pertanyaan-pertanyaan dalam soal placement
test ini berkaitan dengan diri
sendiri, namun jawaban-jawabannya sangat sesuai dengan filsafat. Jawaban-jawaban
placement test ini berkaitan dengan
pilar filsafat. Filsafat memiliki tiga pilar yaitu hakekat, metode, dan manfaat
(ontologi, epistemologi, dan aksiologi). Pada pertanyaan pertama adalah “siapa
anda?” jawabannya adalah “hakekat”. Jadi “anda” adalah “aku” dan “aku” adalah “duniaku”.
Hakekat adalah patokan, penentu, dan penunjuk arah dalam duniaku. Sehingga hakekat
filsafat ilmu adalah patokan, penentu, dan penunjuk arah dalam dunia filsafat
ilmu, filsafat menentukan kemana arar ilmu akan diantarkan dan dikembangkan. Pertanyaan
“siapa anda” juga dapat dijawab “potensi”. Setiap manusia memiliki potensinya
masing-masing, potensi menjadi baik atau buruk. Potensi ada dua macam yaitu
potensi takdir dan potensi ikhtiar. Potensi ikhtiar adalah potensi untuk
berubah. Setiap langkah hidup adalah pilihan.
Pilihan
merupakan metode untuk berubah atau menggapai potensi ikhtiar. Memilih menjadi
baik atau buruk, memilih A atau B, memilih belajar atau memilih terjebak dalam
mitos. Manfaat dari pemilihan ini adalah untuk menaikkan dimensi. Dewa adalah
orang-orang yang dimensinya diatas kita, sehingga kita adalah dewa untuk diri kita
yang lalu, karena dimensi setiap orang selalu meningkat setiap waktu. Semakin banyak
yang kita ketahui maka semakin tinggi dimensi kita. Namun tujuan hidup bukanlah
untuk menaikkan dimensi, sebenar-benar dan setinggi-tingginya tujuan hidup
manusia adalah menjadi saksi.
Objek
filsafat ada dua yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada adalah yang
dapat dilihat, disentuh, didengar, dan dirasakan. Yang mungkin ada adalah yang
ada dipikiranmu. Sebenar-benarnya belajar adalah berubah, berubah dari mengada
menjadi pengada. Sebenar-benar belajar adalah sedang mengada, merubah yang
mungkin ada menjadi ada, sehingga dapat menaikkan dimensi diri. Ketika kita
tidak tahu maka hal yang tidak kita ketahui tersebut adalah hal yang mungkin
ada, namun ketika kita dapat menyebutkan satu saja sifat dari hal yang mungkin
ada tersebut, maka hal yang mungkin ada tersebut sudah berubah menjadi hal yang
ada, dan dimensi diri kita sudah berubah dan naik satu tingkat dari sebelumnya.
Sebenar-benarnya belajar adalah merubah, dan sebenar-benar pebelajar adalah
berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar