Jumat, 15 Desember 2017

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu

Hermenitika
Berikut merupakan refleksi perkuliahan pada tanggal 21 dan 28 November 2017 mata kuliah Filsafat Ilmu yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. setiap hari Selasa pukul 15.30 – 17.10 bertempat di gedung pascasarjana baru lantai 1. Pada dua minggu terakhir pertemuan perkuliahan filsafat ilmu membahas tentang Hermenitika.
Hermenitika merupaka salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Hermenitika kehidupan berarti bagaimana menginterpretasikan makna dari kehidupan. Hermenitika hidup berarti menerjemahkan dan diterjemahkan. Untuk dapat menerjemahkan dan diterjemahkan maka manusia harus berpikir terlebih dahulu. Sudah diketahui bahwa objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Yang mungkin ada adalah sesuatu yang masih ada di pikiran kita. Sesuatu yang mungkin ada ini akan dijadikan menjadi ada dengan berfilsafat. Berfilsafat itu sendiri meliputi di dalam pikiran dan di luar pikiran. Jika “benda pikiran” di dalam pikiran, tugas kita adalah bagaimana untuk menjelaskan “benda pikiran” itu kepada orang lain. Dan jika “benda pikiran” di luar pikiran, tugas kita adalah bagaimana untuk memahami “benda pikiran” tersebut. Filsafat ilmu mengajarkan seseorang untuk tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain (mitos) dan terjebak dalam mitos-mitos tersebut sehingga menjadikannya sebagai kebenaran yang sesungguhnya. Yang menandakan sesuatu itu ada, ketika seseorang dapat menyebutkan salah satu sifat dari sesuatu itu. Tidak ada ruang jika tidak ada waktu, begitu pula sebaliknya. Seseorang biasanya cenderung berpikir untuk sesuatu yang nyata ada (jelas) dan mereka tidak bisa memikirkan sesuatu yang mereka belum ketahui. Grafik Hermenitika kehidupan berbentuk siklik. Dalam hermenitika hidup, spiritual merupakan puncak dari grafik hermenitika hidup tersebut. Spiritual tidak cukup hanya dengan menggunakan pikiran seseorang saja. Karena sejatinya manusia tidak hanya menggunakan pikiran (berfikir) saja dalam menyelesaikan atau mempercayai suatu hal. Di dalam diri manusia juga terdapat kalbu (hati/perasaan). Dalam menanggapi hal spiritual yang lebih peka adalah kalbu dan kemudian akan ditransfer ke dalam pikiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar