Hermenitika
Berikut merupakan refleksi
perkuliahan pada tanggal 21 dan 28 November 2017 mata kuliah Filsafat Ilmu yang
diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. setiap hari Selasa pukul 15.30 – 17.10
bertempat di gedung pascasarjana baru lantai 1. Pada dua minggu terakhir
pertemuan perkuliahan filsafat ilmu membahas tentang Hermenitika.
Hermenitika merupaka salah satu
cabang filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Hermenitika
kehidupan berarti bagaimana menginterpretasikan makna dari kehidupan. Hermenitika
hidup berarti menerjemahkan dan diterjemahkan. Untuk dapat menerjemahkan dan
diterjemahkan maka manusia harus berpikir terlebih dahulu. Sudah diketahui
bahwa objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Yang mungkin ada
adalah sesuatu yang masih ada di pikiran kita. Sesuatu yang mungkin ada ini akan dijadikan menjadi ada
dengan berfilsafat. Berfilsafat itu sendiri meliputi di dalam pikiran dan di
luar pikiran. Jika “benda pikiran” di dalam pikiran, tugas kita adalah
bagaimana untuk menjelaskan “benda pikiran” itu kepada orang lain. Dan jika
“benda pikiran” di luar pikiran, tugas kita adalah bagaimana untuk memahami
“benda pikiran” tersebut. Filsafat ilmu mengajarkan seseorang untuk tidak
langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain (mitos) dan terjebak
dalam mitos-mitos tersebut sehingga menjadikannya sebagai kebenaran yang
sesungguhnya. Yang menandakan sesuatu itu ada, ketika seseorang dapat
menyebutkan salah satu sifat dari sesuatu itu. Tidak ada ruang jika tidak ada
waktu, begitu pula sebaliknya. Seseorang biasanya cenderung berpikir untuk
sesuatu yang nyata ada (jelas) dan mereka tidak bisa memikirkan sesuatu yang
mereka belum ketahui. Grafik Hermenitika kehidupan berbentuk siklik. Dalam
hermenitika hidup, spiritual merupakan puncak dari grafik hermenitika hidup
tersebut. Spiritual tidak cukup hanya dengan menggunakan pikiran seseorang
saja. Karena sejatinya manusia tidak hanya menggunakan pikiran (berfikir) saja
dalam menyelesaikan atau mempercayai suatu hal. Di dalam diri manusia juga
terdapat kalbu (hati/perasaan). Dalam menanggapi hal spiritual yang lebih peka
adalah kalbu dan kemudian akan ditransfer ke dalam pikiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar